Jumat, 20 April 2018

Kapita Selekta Pendidikan Kimia

Nama : Indra Gunawan Barutu
NIM   : ACC 115 041
Guru dan Perbuatan Mengajar

     Ilmu kimia mencakup ilmu pengetahuan yang sangat luas, diantaranya pengetahuan tentang unsur penyusun suatu materi, sturktur atom, susunan atom dalam suatu senyawa, jenis ikatan antar atom dalam suatu materi, sifat-sifat suatu senyawa, mekanisme yang terjadi bila suatu senyawa diubah menjadi senyawa lain, reaksi antara suatu senyawa dengan senyawa lain, katalis dan kecepatan reaksi, radiokimia dan topik lainnya..
     Pembelajaran kimia mencakup persoalan yang sangat luas, mulai dari kebijakan pemerintah, kompetensi guru, teknisi laboratorium, laboran, proses belajar mengajar, siswa, infrastuktur dan keterlibatan orang tua. Jika mempelajari kimia dianggap sulit, maka permasalahan ini kemungkinan besar terkait dengan komponen-komponen tersebut. Selain komponen-komponen ini, kesulitan belajar juga dapat muncul dari karakteristik materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar konsepnya bersifat abstrak.Perlu adanya kreativitas seorang guru dalam mengajarkan materi-materi kimia supaya materi yang diajarkan dapat dipahami.siswa dengan maksimal.
     Sangat disayangkan, sebagian besar guru mengajarkan materi kimia secara monoton. Guru enggan mengembangkan kreativitasnya karena kebanyakan Guru merasa cukup dengan apa yang teknik yang dia miliki sekarang dalam mengajar. Memberikan materi dengan metode ceramah, tugas dan memberikan soal ulangan. Sehingga, siswa merasa sangat terbebani saat mempelajari Kimia. Terlebih lagi karakteristik pelajaran kimia yang mikro, menambah daftar alasan siswa untuk tidak menyukai pelajaran kimia. Karena, sangat sulit bagi siswa untuk membayangkan konsep-konsep materi secara mikro.
     Cara terbaik adalah memberikan edukasi kepada Guru yang enggan mengembangkan kemampuannya. Memberikan edukasi bahwa mengembangkan kemampuan(kreatif) akan meningkatkan pemahaman siswa teehadap materi yang diajarkan. Arif Sholahuddin (www. portal dunia guru. htm, 2006) dalam penelitiannya Implementasi Teori Ausabel pada Pembelajaran Senyawa Karbon di SMU menyimpulkan bahwa pembelajaran konsep senyawa karbon umumnya dilakukan melalui pendekatan hafalan dengan metode ceramah dan bahkan siswa hanya diberi tugas merangkum sendiri materi tersebut. Materi senyawa karbon cukup luas akan menjadi beban bagi siswa.  Dampak yang lebih fatal adalah pokok bahasan senyawa karbon menjadi masalah yang menjemukan dan tidak menarik untuk dipelajari. Peningkatan proses dan hasil pembelajaran konsep senyawa karbon dapat dilakukan dengan penerapan teori Ausabel, melalui: (1)  Penggunaan peta konsep yang bertujuan untuk mengetahui apa yang telah diketahui siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan topik yang akan dipelajari, sehingga guru dapat mengkaitkan dengan pelajaran baru agar pemahaman siswa terhadap konsep menjadi benar, terintegrasi dan berkembang. (2)  Pendekatan mekanisme reaksi yakni pendekatan yang bertujuan untuk memahami konsep senyawa karbon bergugus fungsi melalui logika mekanisme reaksi kimia yang disederhanakan, sehingga siswa memahami hakikat yang sesungguhnya dari sifat kimia senyawa tersebut, tidak sekadar menghafal. (3)  Penggunaan media laboratorium untuk mengurangi tingkat keabstrakan konsep senyawa karbon karena siswa mengalami sendiri, mengamati, menafsirkan, meramalkan, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan selama praktikum berlangsung. Dengan demikian, hal ini akan menghasilkan pemahaman yang baik terhadap konsep senyawa karbon, sekaligus mengembangkan semua ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotoris pada diri siswa.
     Arif Sholahuddin menyarankan: Mengingat luasnya materi yang menyangkut senyawa karbon, guru hendaknya secara kreatif memilih konsep-konsep fundamental dalam pembelajaran sehingga pembahasan dapat lebih mendalam dan bermakna.  Karena topik yang berkaitan dengan senyawa karbon tersebar di berbagai tingkatan kelas, integrasi konsep sangat diperlukan agar terbentuk pemahaman yang utuh dan benar. Implementasi metode eksperimen dalam pembelajaran senyawa karbon merupakan salah satu metode alternatif untuk meningkatkan pemahaman siswa tersebut.  Eksperimen ini tidak harus menggunakan bahan dan alat yang mahal.  Namun, dengan bahan-bahan kimia yang ada di sekitar siswa dan alat-alat yang sederhana atau bekas sekalipun, praktikum tetap bisa dilakukan. Dalam hal ini kreatifitas guru sangat diperlukan.  Selain itu, karena umumnya siswa kurang memahami potensi alam daerahnya, jika dipandang perlu dapat diintegrasikan muatan lokal yang berkaitan dengan senyawa karbon misalnya untuk Kalimantan Selatan adalah batu-bara, gambut, dan intan sebagai bekal pengetahuan siswa mengenai potensi daerahnya.
     Fredy Kurniawan (http://groups.yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files) menjelaskan bahwa kimia akan jadi lebih menarik kalau kita berikan dengan  mengkaitkan pelajaran dengan aspek praktis sehari hari, sehingga timbul ketertarikan akan manfaat kimia yang yang kemudian akan masuk menjadi keinginan untuk belajar. Kalau tak kenal maka tak sayang memang semboyan yang tepat. Kita kenalkan dulu mudah mudahan mereka menjadi sayang dengan kimia.
     Urip Prakosa juga mengusulkan pelajaran kimia tidak semuanya dapat dijelaskan secara riil. Materi pelajaran yang abstrak, atau karena keterbatasan bahan/sarana dapat diajarkan melalui metafora atau analogi. Sebenarnya dengan menggunakan komputer saat ini tidak perlu lagi memakai metafora atau analogi, karena dengan membuat visualisasi maka materi abstrak dapat dijelaskan dengan relatif lebih mudah dan dipahami oleh siswa. Jika tidak tersedia fasilitas komputer maka tidak ada salahnya memanfaatkan analogi, harapannya siswa dapat memperoleh gambaran tentang apa yang dipelajarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar