NIM : ACC 115 041
Guru dan Perbuatan Mengajar
Ilmu
kimia mencakup ilmu pengetahuan yang sangat luas, diantaranya pengetahuan
tentang unsur penyusun suatu materi, sturktur atom, susunan atom dalam suatu
senyawa, jenis ikatan antar atom dalam suatu materi, sifat-sifat suatu senyawa,
mekanisme yang terjadi bila suatu senyawa diubah menjadi senyawa lain, reaksi
antara suatu senyawa dengan senyawa lain, katalis dan kecepatan reaksi,
radiokimia dan topik lainnya..
Pembelajaran
kimia mencakup persoalan yang sangat luas, mulai dari kebijakan pemerintah,
kompetensi guru, teknisi laboratorium, laboran, proses belajar mengajar, siswa,
infrastuktur dan keterlibatan orang tua. Jika mempelajari kimia dianggap sulit,
maka permasalahan ini kemungkinan besar terkait dengan komponen-komponen
tersebut. Selain komponen-komponen ini, kesulitan belajar juga dapat muncul
dari karakteristik materi pelajaran kimia itu sendiri yang sebagian besar
konsepnya bersifat abstrak.Perlu adanya
kreativitas seorang guru dalam mengajarkan materi-materi kimia supaya materi
yang diajarkan dapat dipahami.siswa dengan maksimal.
Sangat
disayangkan, sebagian besar guru mengajarkan materi kimia secara monoton. Guru
enggan mengembangkan kreativitasnya karena kebanyakan Guru merasa cukup dengan apa
yang teknik yang dia miliki sekarang dalam mengajar. Memberikan materi dengan
metode ceramah, tugas dan memberikan soal ulangan. Sehingga, siswa merasa
sangat terbebani saat mempelajari Kimia. Terlebih lagi karakteristik pelajaran
kimia yang mikro, menambah daftar alasan siswa untuk tidak menyukai pelajaran
kimia. Karena, sangat sulit bagi siswa untuk membayangkan konsep-konsep materi
secara mikro.
Cara terbaik
adalah memberikan edukasi kepada Guru yang enggan mengembangkan kemampuannya.
Memberikan edukasi bahwa mengembangkan kemampuan(kreatif) akan meningkatkan pemahaman
siswa teehadap materi yang diajarkan. Arif Sholahuddin (www. portal dunia guru.
htm, 2006) dalam penelitiannya Implementasi Teori Ausabel pada Pembelajaran
Senyawa Karbon di SMU menyimpulkan bahwa pembelajaran konsep senyawa karbon
umumnya dilakukan melalui pendekatan hafalan dengan metode ceramah dan bahkan
siswa hanya diberi tugas merangkum sendiri materi tersebut. Materi senyawa
karbon cukup luas akan menjadi beban bagi siswa. Dampak yang lebih fatal adalah pokok bahasan
senyawa karbon menjadi masalah yang menjemukan dan tidak menarik untuk
dipelajari. Peningkatan proses dan hasil pembelajaran konsep senyawa karbon
dapat dilakukan dengan penerapan teori Ausabel, melalui: (1) Penggunaan peta konsep yang bertujuan untuk
mengetahui apa yang telah diketahui siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan
topik yang akan dipelajari, sehingga guru dapat mengkaitkan dengan pelajaran
baru agar pemahaman siswa terhadap konsep menjadi benar, terintegrasi dan
berkembang. (2) Pendekatan mekanisme
reaksi yakni pendekatan yang bertujuan
untuk memahami konsep senyawa karbon bergugus fungsi melalui logika mekanisme
reaksi kimia yang disederhanakan, sehingga siswa memahami hakikat yang
sesungguhnya dari sifat kimia senyawa tersebut, tidak sekadar menghafal.
(3) Penggunaan media laboratorium untuk
mengurangi tingkat keabstrakan konsep senyawa karbon karena siswa mengalami
sendiri, mengamati, menafsirkan, meramalkan, dan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan selama praktikum berlangsung. Dengan demikian, hal ini
akan menghasilkan pemahaman yang baik terhadap konsep senyawa karbon, sekaligus
mengembangkan semua ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotoris pada diri
siswa.
Arif
Sholahuddin menyarankan: Mengingat luasnya materi yang menyangkut senyawa
karbon, guru hendaknya secara kreatif memilih konsep-konsep fundamental dalam
pembelajaran sehingga pembahasan dapat lebih mendalam dan bermakna. Karena topik yang berkaitan dengan senyawa
karbon tersebar di berbagai tingkatan kelas, integrasi konsep sangat diperlukan
agar terbentuk pemahaman yang utuh dan benar. Implementasi metode eksperimen
dalam pembelajaran senyawa karbon merupakan salah satu metode alternatif untuk
meningkatkan pemahaman siswa tersebut.
Eksperimen ini tidak harus menggunakan bahan dan alat yang mahal. Namun, dengan bahan-bahan kimia yang ada di
sekitar siswa dan alat-alat yang sederhana atau bekas sekalipun, praktikum
tetap bisa dilakukan. Dalam hal ini kreatifitas guru sangat diperlukan. Selain itu, karena umumnya siswa kurang
memahami potensi alam daerahnya, jika dipandang perlu dapat diintegrasikan
muatan lokal yang berkaitan dengan senyawa karbon misalnya untuk Kalimantan
Selatan adalah batu-bara, gambut, dan intan sebagai bekal pengetahuan siswa
mengenai potensi daerahnya.
Fredy
Kurniawan (http://groups.yahoo.com/group/ pengajaran_kimia_sma/files)
menjelaskan bahwa kimia akan jadi lebih menarik kalau kita berikan dengan mengkaitkan pelajaran dengan aspek praktis
sehari hari, sehingga timbul ketertarikan akan manfaat kimia yang yang kemudian
akan masuk menjadi keinginan untuk belajar. Kalau tak kenal maka tak sayang
memang semboyan yang tepat. Kita kenalkan dulu mudah mudahan mereka menjadi
sayang dengan kimia.
Urip
Prakosa juga mengusulkan pelajaran kimia tidak semuanya dapat dijelaskan secara
riil. Materi pelajaran yang abstrak, atau karena keterbatasan bahan/sarana
dapat diajarkan melalui metafora atau analogi. Sebenarnya dengan menggunakan
komputer saat ini tidak perlu lagi memakai metafora atau analogi, karena dengan
membuat visualisasi maka materi abstrak dapat dijelaskan dengan relatif lebih
mudah dan dipahami oleh siswa. Jika tidak tersedia fasilitas komputer maka
tidak ada salahnya memanfaatkan analogi, harapannya siswa dapat memperoleh
gambaran tentang apa yang dipelajarinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar