Ilmu kimia adalah ilmu yang berkenaan dengan
karakterisasi, komposisi dan transformasi materi (Mortimer, 1979). Ilmu kimia
merupakan ilmu yang mempelajari sifat dan komposisi materi (yang tersusun oleh
senyawa-senyawa) serta perubahannya, bagaimana senyawa-senyawa itu bereaksi.
Ilmu kimia mencakup ilmu pengetahuan yang
sangat luas, diantaranya pengetahuan tentang unsur penyusun suatu materi,
sturktur atom, susunan atom dalam suatu senyawa, jenis ikatan antar atom dalam
suatu materi, sifat-sifat suatu senyawa, mekanisme yang terjadi bila suatu
senyawa diubah menjadi senyawa lain, reaksi antara suatu senyawa dengan senyawa
lain, katalis dan kecepatan reaksi, radiokimia dan topik lainnya.
Dunia nyata adalah sesuatu yang dapat diamati
menggunakan pancaindera. Setiap benda tersusun atas jutaan partikel yang sangat
kecil yang disebut atom. Itulah yang disebut dunia atom. Dunia atom sangat
kecil sehingga kita tidak dapat mengunakan pancaindera untuk mengamatinya.
Namun, justru melalui dunia atom inilah dapat dijelaskan misteri di balik
fakta-fakta kehidupan. Bagaimana dengan dunia lambang? Oleh karena atom tidak
dapat diamati menggunakan pancaindera, para ahli Kimia menjelaskannya dengan
menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf. Tidak semua siswa dapat berpikir dengan baik
pada level mikroskopik dan lambang.
Kurangnya kemampuan guru
(kreativitas) dalam mengajarkan pelajaran kimia menjadi momok bagi siswa
sekarang ini. Sehingga pelajaran kimia dianggap pelajaran yang sukar karena dalam mempelajari kimia, siswa dihadapkan pada
tiga dunia, yaitu dunia nyata (makroskopik), dunia atom (mikroskopik), dan
dunia lambang.
Dorothy Gabel pada tahun 1999 , menulis bahwa ada tiga level untuk menyatakan
materi, yaitu level makro, level sub mikro (model-model partikel) dan level
simbolik (notasi kimia). Gabel mengamati bahwa pembelajaran kimia pada umumnya
berada pada level simbolik. Pada Level simbolik siswa dituntut untuk berpikir
abstrak. Gabel memiliki bukti-bukti bahwa pembelajaran yang didominasi oleh
level simbolik (abstrak) ini tidak efektif. Siswa yang berada pada tahap
konkret akan mengalami kesulitan untuk mempelajari konsep-konsep abstrak.
Ditambah lagi, pada
umumnya guru pada bidang kimia mengajarkan ilmu kimia melalui pendekatan hafalan dengan metode ceramah, Guru hanya menjelaskan
ilmu kimia secara teori tanpa analogi atau media pembelajaran yang mendukung
suatu materi kimia untuk diajarkan (teks
book) dan bahkan
siswa hanya diberi tugas merangkum sendiri materi tersebut.
Ketidakmampuan guru dalam memanfaatkan fasilitas laboratorium sekolah, atau karena fasilitas
laboratorium sekolah
menengah yang kurang memadai dan kurang tersedianya tenaga teknisi laboratorium
dan laboran juga menjadi penyebab kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran
kimia. Urip
Prakoso,2006; mengamati pembelajaran
kimia di suatu kabupaten di daerah Kalimatan dalam
pembelaran kimia, kebanyakan guru di daerah tersebut tidak pernah
menyelenggarakan praktek laboratorium dengan beberapa alasan, diantaranya: (1)
tidak ada peralatan dan bahan, (2) guru
tidak tahu apa tujuan praktek laboratorium, (3) tidak mau sibuk/ repot karena
gajinya sama dengan guru yang tidak mengajar kimia.
Kompetensi guru dalam penguasan metode dan
media pembelajaran, serta penguasaan IT untuk pembelajaran juga menyumbang
kesulitan belajar kimia Pada kondisi sepeti inilah perlu adanya edukasi kepada
guru terkait permasalahn-permasalahan yang terjadi. Dimana guru dapat diberikan
edukasi dan pelatihan untuk mengembangan media pembelajaran . Karena
mengembangkan media pembelajaran merupakan salah satu alternatif cara yang
dapat membantu guru untuk menjelaskan ilmu kimia sehingga peserta didik akan
terbantu untuk memahami konsep-konsep kimia dengan lebih baik.
Hanya dengan bahan-bahan kimia yang ada di sekitar siswa
dan alat-alat yang sederhana atau bekas sekalipun, praktikum atau pengembangan media
pembelajaran tetap
bisa dilakukan. Dalam hal ini kreatifitas guru sangat diperlukan. Selain itu, karena umumnya siswa kurang
memahami potensi alam daerahnya, jika dipandang perlu dapat diintegrasikan
muatan lokal yang berkaitan dengan senyawa karbon misalnya untuk Kalimantan
Selatan adalah batu-bara, gambut, dan intan sebagai bekal pengetahuan siswa
mengenai potensi daerahnya.
Salah satu pengembangan
media pembelajaran adalah guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, contohnya
pengembangan media pembelajaran berbasis web. Dimana, melalui web, guru dapat
berbagi informasi, sharing dan lain-lainnya terkait materi kimia. Materi yang
dapat diberikan juga bervariasi, bisa dalam bentuk tulisan, suara, bahkan vidio
pembelajaran kimia. Sehingga melalui web ini siswa bisa mengakses materi-materi
kimia dengan teratur, sehingga pembelajaran kimia diharapkan dapat dipahami
siswa lebih baik. Web juga dapat memajukan pengetahuan guru terkait ilmu kimia
dan memajukan pengetahuan guru untuk mengajarkan ilmu kimia agar lebih maksimal
dipahami siswa. Dimana, web yang dibuat bisa dikhusukan untuk web Persatuan
Guru Mata Pelajaran Kimia, sehingga pertukaran informasi dapat diakses dengan
mudah sehingga guru dapat mengetahui perkembangan ilmu kimia serta guru dapat
berimprovisasi untuk mengajarkan ilmu kimia.
Beberapa alternatif
media pembelajaran yang dapat dikembangkan adalah media-media sosial. Guru
dapat membagikan informasi-informasi terkait materi kimia pada beberapa media
misalnya, facebook, whatapps, line,
instagram dan media-media sosial
lainnya yang dianggap mampu untuk sarana interaksi antara guru,siswa dan media
pembelajaran pada pembelajaran online.Harapannya, melalui semua pengembangan
media pembelajaran yang dilakukan siswa dapat tertarik pada pelajaran kimia
sehingga siswa dapat memahami
konsep-konsep kimia dengan maksimal.