Kamis, 03 Mei 2018

Hubungan Antara Konstanta Ionisasi Asam dan Basa Konjugatnya


Hubungan penting antara konstanta ionisasi asam dan konstanta ionisasi dari basa konjugasinya dapat diturunkan sebagai berikut, menggunakan asam asetat sebagai contoh:

CH3COOH ( aq ) = H + ( aq ) + CH3COO - ( aq )

Ka = [H+][CH3COO - ] / [CH3COOH ]


Basis konjugat, CH3COO - , dipasok oleh larutan natrium asetat (CH3COONa),  bereaksi dengan air sesuai dengan persamaan

CH3COO - ( aq ) + H2O ( l ) = CH3COOH ( aq ) + OH - ( aq )

dan kita dapat menulis konstanta ionisasi dasar sebagai

Kb = [OH -][CH3COOH ] / [CH3COO- ]

 Produk dari dua konstanta ionisasi ini diberikan oleh

KaKb    =  [H+][CH3COO - ] / [CH3COOH ] x [OH -][CH3COOH ] / [CH3COO-

  =  [H+][OH-]
       
             =   Kw


Hasil ini mungkin tampak aneh pada awalnya, tetapi jika kita menambahkan dua persamaan kita melihat bahwa Jumlah hanyalah autoionisasi air.

(1) CH3COOH(aq)              =  H+(aq) + CH3COO-(aq)                          Ka
(2 CH3COO-(aq) +H2O(l) =  CH3COOH(aq) + OH-(aq)     -              Kb 
(3) H2O(l)                                 =   H+(aq)  + OH-(aq)                                Kw

Contoh ini mengilustrasikan salah satu aturan untuk kesetimbangan kimia: Saat dua reaksi ditambahkan untuk memberikan reaksi ketiga, konstanta kesetimbangan untuk ketiga reaksi adalah produk dari konstanta kesetimbangan untuk dua reaksi tambahan (lihat Bagian 14.2). Jadi, untuk pasangan asam-basa konjugat selalu benar

K a K b = K w                                                                                     (15.12)

Mengekspresikan Persamaan (15.12)sebagai

K a = K w / K b               K b = K w / K a

memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan penting: Semakin kuat asam (semakin besar K a), maka  lemahnya basa konjugasinya (semakin kecil K b), dan sebaliknya.

Pengembangan Media Pembelajaran



Ilmu kimia adalah ilmu yang berkenaan dengan karakterisasi, komposisi dan transformasi materi (Mortimer, 1979). Ilmu kimia merupakan ilmu yang mempelajari sifat dan komposisi materi (yang tersusun oleh senyawa-senyawa) serta perubahannya, bagaimana senyawa-senyawa itu bereaksi.

Ilmu kimia mencakup ilmu pengetahuan yang sangat luas, diantaranya pengetahuan tentang unsur penyusun suatu materi, sturktur atom, susunan atom dalam suatu senyawa, jenis ikatan antar atom dalam suatu materi, sifat-sifat suatu senyawa, mekanisme yang terjadi bila suatu senyawa diubah menjadi senyawa lain, reaksi antara suatu senyawa dengan senyawa lain, katalis dan kecepatan reaksi, radiokimia dan topik lainnya.
Dunia nyata adalah sesuatu yang dapat diamati menggunakan pancaindera. Setiap benda tersusun atas jutaan partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Itulah yang disebut dunia atom. Dunia atom sangat kecil sehingga kita tidak dapat mengunakan pancaindera untuk mengamatinya. Namun, justru melalui dunia atom inilah dapat dijelaskan misteri di balik fakta-fakta kehidupan. Bagaimana dengan dunia lambang? Oleh karena atom tidak dapat diamati menggunakan pancaindera, para ahli Kimia menjelaskannya dengan menggunakan lambang berupa angka, model, dan huruf. Tidak semua siswa dapat berpikir dengan baik pada level mikroskopik dan lambang.
Kurangnya kemampuan guru (kreativitas) dalam mengajarkan pelajaran kimia menjadi momok bagi siswa sekarang ini. Sehingga pelajaran kimia dianggap pelajaran yang sukar karena dalam mempelajari kimia, siswa dihadapkan pada tiga dunia, yaitu dunia nyata (makroskopik), dunia atom (mikroskopik), dan dunia lambang.
Dorothy Gabel pada tahun 1999 , menulis bahwa ada tiga level untuk menyatakan materi, yaitu level makro, level sub mikro (model-model partikel) dan level simbolik (notasi kimia). Gabel mengamati bahwa pembelajaran kimia pada umumnya berada pada level simbolik. Pada Level simbolik siswa dituntut untuk berpikir abstrak. Gabel memiliki bukti-bukti bahwa pembelajaran yang didominasi oleh level simbolik (abstrak) ini tidak efektif. Siswa yang berada pada tahap konkret akan mengalami kesulitan untuk mempelajari konsep-konsep abstrak.
Ditambah lagi, pada umumnya guru pada bidang kimia mengajarkan ilmu kimia melalui pendekatan hafalan dengan metode ceramah, Guru hanya menjelaskan ilmu kimia secara teori tanpa analogi atau media pembelajaran yang mendukung suatu materi kimia untuk diajarkan (teks book) dan bahkan siswa hanya diberi tugas merangkum sendiri materi tersebut.
Ketidakmampuan guru dalam memanfaatkan fasilitas laboratorium sekolah, atau karena fasilitas laboratorium sekolah menengah yang kurang memadai dan kurang tersedianya tenaga teknisi laboratorium dan laboran juga menjadi penyebab kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran kimia. Urip Prakoso,2006; mengamati pembelajaran kimia di suatu kabupaten di daerah Kalimatan dalam pembelaran kimia, kebanyakan guru di daerah tersebut tidak pernah menyelenggarakan praktek laboratorium dengan beberapa alasan, diantaranya: (1) tidak ada peralatan dan bahan,  (2) guru tidak tahu apa tujuan praktek laboratorium, (3) tidak mau sibuk/ repot karena gajinya sama dengan guru yang tidak mengajar kimia.
Kompetensi guru dalam penguasan metode dan media pembelajaran, serta penguasaan IT untuk pembelajaran juga menyumbang kesulitan belajar kimia Pada kondisi sepeti inilah perlu adanya edukasi kepada guru terkait permasalahn-permasalahan yang terjadi. Dimana guru dapat diberikan edukasi dan pelatihan untuk mengembangan media pembelajaran . Karena mengembangkan media pembelajaran merupakan salah satu alternatif cara yang dapat membantu guru untuk menjelaskan ilmu kimia sehingga peserta didik akan terbantu untuk memahami konsep-konsep kimia dengan lebih baik.
Hanya dengan bahan-bahan kimia yang ada di sekitar siswa dan alat-alat yang sederhana atau bekas sekalipun, praktikum atau pengembangan media pembelajaran tetap bisa dilakukan. Dalam hal ini kreatifitas guru sangat diperlukan.  Selain itu, karena umumnya siswa kurang memahami potensi alam daerahnya, jika dipandang perlu dapat diintegrasikan muatan lokal yang berkaitan dengan senyawa karbon misalnya untuk Kalimantan Selatan adalah batu-bara, gambut, dan intan sebagai bekal pengetahuan siswa mengenai potensi daerahnya.
Salah satu pengembangan media pembelajaran adalah guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi, contohnya pengembangan media pembelajaran berbasis web. Dimana, melalui web, guru dapat berbagi informasi, sharing dan lain-lainnya terkait materi kimia. Materi yang dapat diberikan juga bervariasi, bisa dalam bentuk tulisan, suara, bahkan vidio pembelajaran kimia. Sehingga melalui web ini siswa bisa mengakses materi-materi kimia dengan teratur, sehingga pembelajaran kimia diharapkan dapat dipahami siswa lebih baik. Web juga dapat  memajukan pengetahuan guru terkait ilmu kimia dan memajukan pengetahuan guru untuk mengajarkan ilmu kimia agar lebih maksimal dipahami siswa. Dimana, web yang dibuat bisa dikhusukan untuk web Persatuan Guru Mata Pelajaran Kimia, sehingga pertukaran informasi dapat diakses dengan mudah sehingga guru dapat mengetahui perkembangan ilmu kimia serta guru dapat berimprovisasi untuk mengajarkan ilmu kimia.
Beberapa alternatif media pembelajaran yang dapat dikembangkan adalah media-media sosial. Guru dapat membagikan informasi-informasi terkait materi kimia pada beberapa media misalnya, facebook, whatapps, line, instagram dan  media-media sosial lainnya yang dianggap mampu untuk sarana interaksi antara guru,siswa dan media pembelajaran pada pembelajaran online.Harapannya, melalui semua pengembangan media pembelajaran yang dilakukan siswa dapat tertarik pada pelajaran kimia sehingga siswa dapat  memahami konsep-konsep kimia dengan maksimal.